Tempat Wisata Mangrove Wonorejo Surabaya

Posted on

Sejak timbul di sosial media beberapa waktu lalu, aku amat tertarik untuk mendatangi destinasi wisata baru di Surabaya ini. Kebetulan lokasinya tak sangat jauh dari rumah. Posisi wisata ini ada di Surabaya ataupun sekitar 2 separuh jam petualangan saja. Destinasi wisata ini bernama Hutan Wisata Mangrove Wonorejo.

Surabaya diketahui sebagai pusat pemerintahan provinsi, pusat industri, dan pusat perekonomian. Jadi saat timbul destinasi berwujud hutan mangrove di Surabaya, kira-kira semua golongan terhitung aku tertarik untuk berkunjung. Apalagi Surabaya lebih diketahui dengan pusat perbelanjaannya.

Hal itu teruji saat aku bertanya ke beberapa kawan yang berdomisili di Surabaya tentang destinasi wisata di Surabaya, mereka mengatakan, “Ada apa di Surabaya? Paling juga mall.”

Siapa sangka kalau di Surabaya ternyata ada hutan Mangrove juga
Siapa sangka kalau di Surabaya ternyata ada hutan Mangrove juga

Hutan Wisata Mangrove Wonorejo, Tempat Sempurna Untuk Menjauhi Panasnya Surabaya

Bila memandang di peta, Surabaya bahwasanya sebuah kota yang ada di tepi laut. Sejak dulu hingga sekarang, dengan Tanjung Perak-nya, Surabaya juga diketahui sebagai kota pelabuhan. Jadi sudah sepantasnya kalau Surabaya memiliki hutan mangrove.

Di siang yang terik, temperatur udara Surabaya mencapai 32 derajat celcius, ditemani seorang sahabat, aku meluncur menyusuri jalanan Surabaya yang lebar. Angin berhembus namun tetap tak kurangi hawa panas kota Surabaya. Walau ia bilang sudah pernah ke hutan mangrove wonorejo, tetapi selalu saja kami masih mengandalkan peta elektronik buatan google, Google Maps, untuk mengarah ke sana.

Kami tiba di pintu masuk sekitar waktu 2 siang. Di akhir minggu seperti itu, hutan mangrove wonorejo menjadi amat sangat ramai. Lokasinya yang ada di sisi timur kota menjadikan hutan mangrove wonorejo ini jujugan kanak-kanak muda dan keluarga untuk berekreasi. Tak perlu jauh-jauh.

Jalanan kayu berpagar di Hutan Mangrove
Jalanan kayu berpagar di Hutan Mangrove

Rupanya ada 2 zona di sini, yang pertama wisatawan dibebaskan dari biaya masuk, selang yang lain wisatawan harus membayar beberapa harga. Tetapi tenang, aku akan mengatakan tentang kedua zona tersebut.

Pertama, kami masuk ke zona yang free terlebih dulu. Terdapat jalan yang dibikin dari kayu, menyamai jembatan dengan pagar di kanan kirinya sebagai sarana wisatawan menyusuri hutan, sampai-sampai wisatawan tidak akan jatuh. Hutan pula masih ramai muda-mudi dan keluarga.

Ada yang berjalan-jalan, difoto bersama pendamping ataupun teman-teman, ada juga yang duduk-duduk sembari ngobrol. Ada juga sekelompok bapak-bapak yang membawa perlengkapan memancing.

Monyet liar yang sudah tidak asing dengan kehadiran manusia
Monyet liar yang sudah tidak asing dengan kedatangan manusia

“Bisa banyak, Pak?” Tanya aku kepada salah seorang ayah yang menggunakan topi.

“Tidak sanggup apa-apa, Mas. Kecil-kecil di sini.” Kata ayah tersebut sembari mengajak rekan-rekannya untuk pindah ke tempat lain. Mereka memang tak biasanya memancing di sini. Hanya mencari peruntungan baru. Rupanya di sini tidak sebanyak di tempat asal mereka, di Benowo.

Di sini memang tiada peraturan yang melarang wisatawan untuk memancing. Tak sampai 5 menit berjalan, aku dan sahabat aku sudah mencapai ujung jalan. Rupanya tak sangat luas untuk bagian yang free ini.

Tempat wisata yang sempurna untuk lari dari panasnya Surabaya.
Tempat wisata yang sempurna untuk lari dari panasnya Surabaya.

Kami pindah ke bagian yang lain. Berjalan sekitar seratus meter. Di tengah petualangan, aku memandang ada big hoe sedang rehat. Mungkin pihak pengelola sedang berencana menambah atraksi wisata ini. Cuaca mulai mendingin.

Kami tiba di bagian yang mengharuskan wisatawan untuk membayar tiket masuk. Di zona ini sudah lebih tertata dibandingkan sebelumnya. Terdapat kios-kios masakan dan minuman yang disediakan bagi para wisatawan. Di sini, wisatawan dipungut biaya 5000 per kepala.

Pengelola juga sediakan sarana berbentuk perahu. Tamu sanggup menyewa perahu tersebut untuk bertualang setiap hutan dengan membayar duit sebesar 25000 rupiah per kepala. Kami saat itu lebih menentukan untuk menyusuri hutan dengan berjalan kaki saja.

Wisata Mangrove Wonorejo ini menjadi tempat populer kawula muda
Wisata Mangrove Wonorejo ini menjadi tempat beken kawula muda

Hutan mangrove ialah habitat asli bagi beberapa hewan seperti monyet, burung, beberapa ikan, dan udang ataupun kepiting. Saat itu aku hanya memandang satu ekor monyet liar yang sedang “berbaur” dengan wisatawan. Tampaknya monyet ini sudah terbiasa dengan kedatangan wisatawan. Walau begitu, harap hati-hati dengan barang bawaan ya. Sayangnya, aku tak memandang kedatangan udang, kepiting, ataupun hewan air lain di sini. Mungkin karena masih waktu kemarau.

Di kawasan berbayar ini pohon-pohon mangrove lebih rindang. Malahan di beberapa bagian bisa membuat sebuah lorong buatan dari dahan-dahan mangrove. Jadi sejuk. Cukup. Tetapi di bagian ini pulalah tempat para wisatawan menyudahi sampai-sampai sangat ramai. Tenang saja, lorong-lorong ini tak hanya satu kok.

Tempat ini memang sangat cocok seandainya didatangi bersama sahabat, pendamping, ataupun bersama keluarga. Kita bisa mengakrabkan diri dengan bercengkrama sembari ngobrol santai. Memperdebatkan masa depan ataupun bersenda gurau. Maupun, difoto ala-ala selebgram.

Pengunjung dapat menaiki perahu untuk menyusuri sungai di dekat Hutan Wisata Mangrove Wonorejo.
Tamu sanggup menaiki perahu untuk menyusuri sungai di dekat Hutan Wisata Mangrove Wonorejo.

Bagi kawasan tepi laut seperti Surabaya, kedatangan hutan mangrove memang sangat bermanfaat. Hutan mangrove sanggup kurangi abrasi dan menahan gelombang air laut sampai-sampai tidak masuk dan menghancurkan kawasan kota. Sayangnya hutan mangrove wonorejo ini tak sanggup kurangi panasnya cuaca terik di Surabaya.

Tips saat berekreasi ke Hutan Mangrove Wonorejo:

Ada beberapa teknik yang perlu kalian perhatikan saat akan berekreasi ke Hutan Mangrove Wonorejo Surabaya. Beberapa antara lain ialah sebagai berikut

  1. Gunakan pakaian yang nyaman
  2. Membawa air minum
  3. Membawa payung
  4. Membawa pendamping

Profil Penulis:

Penulis bernama Gallant Tsany Abdillah, akrab terpanggil Gal. Seorang mas-mas yang masih belajar untuk menuliskan di galautraveler.wordpress.com dan memotret di Instagram: @kidtsany serta suka bercuit di Twitter: @kidtsany. Suka jalan-jalan dan menggalau, tentang apapun. Kalau pernah ketemu, jangan sungkan untuk disapa.

Tulisan dari Gallant Tsany Abdillah
Tulisan dari Gallant Tsany Abdillah

Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *