Mengenal Tari Kafuk Budaya Pencair Suasana dari Tambrauw

Posted on

Dari puluhan cewek di Distrik Miyah, Kabupaten Tambrauw, terdengar gumaman kalimat. Mereka mengucapkan serentak seperti merapal mantra, menyongsong kedatangan rombongan ekspedisi.

Siau tayunu foo siau

Siau tayunu foo siau

Siau tayunu foo siau

“Kalimat itu maksudnya selamat datang,” kata Bupati Tambrauw Gabriel Asem.

Rombongan itu berisi belasan orang. Mereka berputar-putar menggunakan kain etnik sembari terus merapal kalimat dengan intonasi yang bersaut-sautan.

Gerakannya enerjik, suaranya lantang. Kakinya mengentak-entak. Lainnya kepalanya merunduk.

Inilah adat orang Papua. Mereka akan menyongsong para tamunya dengan suka cita melalui sebuah tarian dan nyanyian. Ya, belasan orang berpakaian adat tadi tengah mempraktikkan tarian selamat datang, Tari Kafuk.

Seperti orang-orang Papua pada biasanya, tiap suku di bumi Cenderawasih itu memiliki adab menari serta menyanyi di bermacam peluang. Tercantum pada saat kedatangan orang dari luar wilayah.

Dalam Tari Kafuk dan nyanyi itu, para penari cewek membentuk formasi 2 barisan. Tangannya mengayun-ayun seperti mengajak bermain.

Para tetua berada paling depan, lainnya anak muda, dilanjutkan kanak-kanak kecil, berada di barisan belakang.

Sesudah itu, formasi barisan selanjutnya dibuat merenggang. Salah seorang penari akan menarik tamunya.

Tamu itu akan ditempatkan pada tengah barisan sembari diapit para penari. Mereka lalu menuntun para tamu itu ke tengah perkampungan. Di antara kalimat “siau tayunu foo siau”, terselip nama para tamu.

Sampai di tengah perkampungan, formasi mereka bubar. Dentuman kajon dipukul para penabuh dengan ritme yang semakin kilat.

Seorang cowok yang memegang tombak menghambur di antara para penari cewek. Dialah si kepala suku. Cowok separuh baya itu menginstruksikan para penari membentuk sekeliling. Tangan mereka bertautan satu sama lain. Kakinya mengayun ke kanan dan ke kiri.

Sembari separuh berlari, para tamu diajak berlari menyerong dalam sekeliling. Suara nyanyian saat itu akan melonjak keras. Tawa renyah menggelegar mendadak.

Belum 10 menit dijamu, tamu-tamu ekspedisi sudah akrab dengan warga lokal. Begitulah cara mereka membangun ikatan dengan orang baru lewat tari dan nyanyian. Secrpat itu, atmosfer akan cair.

Ada juga penari terorganisasi dalam 2 sanggar. Masing-masing merupakan Akamasar dan Ri Ruoh. Sanggar itu diketuai oleh Katarina Hae.

“Gerakan-gerakan awal pada tarian itu berarti penghormatan. Umpamanya, gerakan merunduk dan mengayunkan tangan,” tutur Katarina.

Bagi orang Papua, itu merupakan simbol menghargai tamu. Lainnya olah tubuh yang mengentak-entak dan mengajak tamu menari bermakna menjalakan keakraban.

Pada kegiatan yang sebetulnya, Tari Kafuk dipraktikkan oleh 40-100 orang. Seperti gerakan tari massal, atmosfer akan mencair apabila para cewek penari sudah bergerak leluasa. Langit Miyah akan penuh dengan canda-tawa dari penduduk dan tamu.

Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *