Mengenal Desa Pajam, Desa Tertua Perajin Tenun Wakatobi

Posted on

Namanya Desa Pajam. Desa ini yakni penghasil kerajinan tangan yang dipelajari secara turun menyusut. Awal mulanya menjadi bekal berkeluarga gadis-gadis Palea, sekarang kain-kain tenun berearna terang itu jadi cindera mata eksotik dari Wakatobi.

Sebagai info, Pajam yakni satu dari semua desa tertua yang juga diyakini masyarakat setempat sebagai asal muasal cerita dan peradaban Kerajaan Kaledupa di wilayah Pulau Kaledupa, Kabupaten Wakatobi.

Desa Pajam berada di are yang sedikit lebih agung ketimbang dengan dataran-dataran di sekelilingnya. Wilayah ini juga diketahui dengan kawasan Benteng Palea yang adalah satu dari semua obyek wisata paling kerap didatangi oleh pengunjung saat berekreasi ke Pulau Kaledupa.

Di dalam kawasan Benteng Palea inilah budaya tenun khas kaledupa hidup dan lestari secara turun temurun. Karena kelestariannya, pemerintah menetapkan Desa Pajam sebagai pusat kerajinan tenun maupun Weaving Handicraft Center yang menjadi satu dari semua kawasan ecotourism andalan Wakatobi.

Bekal berkeluarga

Penenun di Desa Pajam menguasai keterampilannya secara turun-temurun. Konon, gadis-gadis Desa Palea dulu haruslah mewarisi kepiawaian tenun sebagai bekal buat mereka seandainya berkeluarga nanti.

Maka dari itu, jelang perkawinan maupun pada umur 20 tahunan, biasanya cewek di Desa Pajam belajar menenun dengan ibunya.

 

Gadis di Desa Pajam belajar menenun secara turun-temurun untuk bekal berkeluarga.https://pesona.travel Perempuan di Desa Pajam belajar menenun secara turun-temurun untuk bekal berkeluarga.

 

Tenun Wakatobi dikerjakan secara manual dalam 3 tahapan. Pertama, Purunga maupun proses menggulung benang. Selanjutnya, Oluri, ialah menggulung benang di atas papan, dan yang terakhir yakni proses menenun.

Proses menenun hingga menjadi selembar kain maupun sarung bisa memakan waktu kurang lebih 1 minggu.

Hasil dari tenunan mereka rata-rata di jual sebagai oleh-oleh buat wisatawan maupun untuk dipakai sendiri pada acara-acara adat di kampung mereka. Harga yang ditawarkan dari kain tenun khas Kaledupa ini berkisar dari Rp 300.000 hingga jutaan rupiah, tergantung dari motif dan tipe tenunnya.

Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *