7 Desa Wisata dan Desa Digital di Indonesia yang Disebut Ma’ruf Amin

Posted on

Dalam debat Pilpres 13 April lalu, calon Wakil Presiden nomor urut 01, Ma’ruf Amin menyinggung permasalahan desa wisata. Menurutnya, program tersebut adalah satu dari keseluruhan cara buat menumbuhkan perekonomian suatu desa.

Sabtu malam kemarin, debat memang menyinggung permasalahan soal ekonomi. Mulai dari ekonomi mikro, hingga permasalahan ekonomi makro seperti harga olahan pokok, keuangan BUMN dan lain-lain disinggung. Sektor ekonomi emang aspek terutama dalam pengelolaan negeri, karena biasanya setiap kebijakan yang dibuat pasti memiliki latar belakang dan tujuan untuk menambah perekonomian dan serta sosial.

Kala permasalahan tentang perekonomian desa mencuat, masing-masing paslon menuturkan gagasannya masing-masing. Yang paling unik merupakan yang diucapkan oleh Ma’ruf Amin, menuturkan 2 istilah “Dewi-Dedi”. Kalau kalian mengiranya itu nama orang, salah besar, karena “Dewi” merupakan singkatan dari desa wisata, selang “Dedi” merupakan desa digital.

Soal desa wisata, ini merupakan konsep yang sudah ada sejak era pemerintahan Jokowi. Desa yang masuk dalam bagian ini merupakan yang memiliki sumber daya ataupun kemampuan wisata seperti budaya hingga industri kreatif.

Ya, mungkin dari kamu ada yang belum tahu di mana aja sih Dewi (red: Desa Wisata) di Indonesia? Dan gimana dengan Dedi (red: Desa Digital)?

1. Desa wisata Panglipuran – Bali

Desa wisata
Desa Panglipuran yang berada di Bali bisa dibilang satu dari keseluruhan destinasi wisata yang mesti wajib didatangi, (Ilustrasi/Shutterstock).

Kalau desa wisata yang satu ini pasti ada banyak yang tahu ya. Desa yang terletak di Bangli, Bali ini udah beberapa kali menyandang sebagai desa terbersih di dunia. Kalian gak bakalan nemuin sampah plastik ataupun puntung rokok di sini.

Penyusunan lingkungan, terhitung rumah warga, halaman, hingga jalanannya yang menanjak dengan apik. Namanya desa, di sini, kamu gak bakal deh nemu motor yang bersliweran.

Makanya, atmosfer bisa sangat asri dan tenang, bikin betah berlama-lama. Hebatnya lagi, walau jaman udah mutahir, para warganya masih tetap memegang teguh kebudayaan mereka.

Sejak ditetapkan sebagai desa wisata pada tahun 1993, desa ini semakin diketahui sebagai destinasi para turis. Gak cuma wisatawan dalam negeri, tetapi mancanegara juga berbondong-bondong ke sini.

Namanya tempat wisata tentu ada biaya retribusi yang mesti kamu bayar sebelum masuk. Untuk hadirin berusia dipakai biaya Rp 15 ribu, selang kanak-kanak Rp 10 ribu. Namun kalau buat wisatawan mancanegara, Rp 30 ribu.

2. Kasongan – Bantul

Desa wisata
Desa Kasongan yang berada di Bantul, Yogyakarta terkemuka dengan pengrajin keramiknya, (Ilustrasi/Shutterstock).

Desa Wisata Kasongan, terletak di Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Lokasinya gak begitu jauh dari pusat kota, mampu ditempuh dengan ekspedisi sekitar 10 sampai 20 menit. Kemampuan desa ini berbasis pada industri kerajinan tangan, gerabah.

Sebagian besar warganya telah menguasai teknik-teknik pembuatan industri tanah liat ini. Kemampuan tersebut telah ada sejak dulu dan tetap lestari dengan mengajarkannya ke generasi selanjutnya.

Produk kerajinannya sangat beragam mulai dari perlengkapan dapur seperti kendi dan kuali hingga produk hiasan seperti pot yang dibuat dari tanah liat.

Bila kalian tertarik mempelajari pembuatan gerabah, beberapa workshop sediakan jasa pelatihan singkat. Kamu akan dianjurkan bermacam tata cara mengolah tanah liat menjadi produk dan menarik.

3. Tamansari – Banyuwangi

Desa wisata
Kawah Ijen satu dari keseluruhan destinasi wisata yang berada di Banyuwangi, (Ilustrasi/Shutterstock).

Pariwisata di Banyuwangi tengah naik daun baru-baru ini. Seakan gak bersedia kalah dengan tetangganya, Bali, wilayah di pinggiran pulau Jawa ini juga menaruh segudang tempat menarik. Wisata alamnya sangat melimpah, mulai dari gunung, laut, hingga halaman nasional dengan beragam binatang liar.

Satu di antara yang menjadi daya tariknya merupakan Desa Wisata Tamansari. Terletak di kaki Gunung Ijen, udara di sini sangat sejuk sekali. Dilansir dari Merdeka, pada tahun 2017 lalu, Tamansari mendapatkan penghargaan Desa Wisata Award bagian Jejaring Bisnis.

Desa ini menjadi satu dari keseluruhan akses bagi para turis yang bakal mendaki ke Kawah Ijen. Oleh sebab itu, banyak rumah penduduk yang dijadikan homestay bagi para turis.

Sesudah itu, yang menarik di sini juga para turis mampu mengeksplor Kampung Penambang, Kampung Bunga, dan Kampung Susu. Dipastikan deh, kalian bakal merasakan teduhnya dan tentramnya kehidupan desa.

4. Ubud – Bali

Desa wisata
Ubud satu dari keseluruhan desa wisata yang begitu terkemuka kemahsyurannya di dunia, (Ilustrasi/Shutterstock).

Satu lagi dari Bali merupakan Desa Ubud. Kalian pasti sudah selalu dengar tentang desa yang satu ini, apalagi ketenarannya sudah sampai ke mancanegara. Jadi satu dari keseluruhan destinasi wajib didatangi bagi para turis di Pulau Dewata.

Biasanya yang berkunjung ke sini merupakan mereka yang emang pengin mencari ketenangan ataupun mungkin bosan dengan atmosfer Bali yang selalu identik dengan .

Di Ubud kalian gak bakal merasakan hiruk pikuk kehidupan malam layaknya di kawasan Kuta, tetapi atmosfer alam yang tenang dan panorama alam hijau yang menenangkan akan menyambutmu. Film mancanegara “Eat, Pray, Love” yang diperankan oleh Julia Roberts juga sampai menyambangi Ubud sebagai satu dari keseluruhan posisi syutingnya.

5. Waturaka – Ende

Desa wisata
Desa Ende yang berada di Flores satu dari keseluruhan kawasan yang terbilang indah, (Ilustrasi/Shutterstock).

NTT ternyata juga memiliki desa wisata yang gak kalah menarik buat didatangi, salah satunya Desa Waturaka di Ende, Flores. Desa ini semakin laris didatangi karena menjadi spot istirahat para turis yang pengin mengunjngi ke Halaman Nasional Kelimutu.

Memanfaatkan ketenaran Danau Kelimutu, warga Waturaka membuka bermacam penginapan ataupun homestay. Nilai-nilai budaya di desa ini masih sangat kental, semisal warga saling gotong royong.

Atmosfer seperti ini yang gak bakal dibiarkan oleh para hadirin. Hadirin juga gak perlu sungkan-sungkan buat nimbrung ngobrol sama warga, karena mereka sangat ramah dan terbuka.

6. Desa Digital Lamahu – Gorontalo

Desa wisata
Desa Lamahu, Gorontalo satu dari keseluruhan desa digital yang berada di Indonesia, (Ilustrasi/Shutterstock).

Sesudah menatap 5 Dewi ataupun desa wisata, saat ini kita beralih ke Dedi ataupun desa digital. Desa digital pertama di Indonesia ternyata bukan dari Pulau Jawa, malahan dari Sulawesi tepatnya di Desa Lamahu, Gorontalo. Desa Lamahu memiliki perlengkapan dan teknologi mutahir dalam melangsungkan proses kepengurusan desanya.

Walaupun jauh dari pusat kota dan kesan desanya masih ada, tetapi Lamahu memiliki command center di kantor desa. Keberadaannya ini bisa dengan kilat mengatasi keluhan masyarakat.

Cara kerjanya, dikabarkan dari Liputan6, masyarakat mesti mengunduh aplikasi Panic Button di feature ponsel mereka. Aplikasi tersebut mencakup layanan kesehatan, keamanan, dan perizinan desa.

Gak cuma itu saja, di beberapa spot desa juga memiliki Wi-Fi yang bisa dinikmati warga.  Tak cuma itu, mereka juga memiliki CCTV yang tersebar di 9 titik guna menambah keamanan.

7. Desa Digital Puntang – Indramayu

Desa wisata
Desa Digital Puntang – Indramayu satu dari keseluruhan desa yang terbilang berhasil buat teknologi digital, (Ilustrasi/Shutterstock).

Soal desa wisata, Jawa Barat udah memiliki Desa Adat Baduy, tetapi gimana dengan desa digital? Pada akhir tahun 2018 lalu, Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil telah meresmikan desa digital pertama Desa Puntang, Indramayu.

Dilansir dari Tempo, sebagian besar masyarakat di desa ini adalah peternak lele. Namun, mereka masih memiliki keluhan tentang budidayanya. Oleh karna itu Pemprov Jabar menerbitkan aplikasi di ponsel pintar yang bernama e-Fishery.

e-Fishery ini emang diciptakan khusus buat peternak. Aplikasi ini membolehkan mereka mengelola jam dan volume pangan ternak. Jadi diharapkan pemberian pangan menjadi lebih efisien dan efektif. Diharapkan, pemanfaatan aplikasi ini membuat panen lele menjadi meninggi, yang biasanya 3-4 kali dalam setahun, tapi jadi 6 kali dalam setahun.

Desa Puntang bukan satu-satunya desa digital di Jawa Barat. Dilansir dari Tribun, paling tidak ada 155 desa yang saat ini tengah ditingkatkan menjadi desa luar biasa mutahir berbasis teknologi.

Semoga saja dengan keberadaan “Dewi Dedi”, ataupun desa wisata dan desa digital ini betul-betul bisa penuhi tujuan awal mulanya ya, adalah menambah perekonomian desa. Siapapun presidennya nanti, semoga program baik seperti ini akan terus dipertahankan kalau perlu ditingkatkan!
Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *