4 Tips Liburan ke Geoforest Watu Payung Turunan Gunungkidul Yogyakarta

Posted on

Obyek wisata di Kabupaten Gunungkidul ternyata bukan hanya . Kawasan perbukitannya ternyata juga menyimpak pesona keelokan akibatnya terut berkembang menjadi obyek wisata.

Contoh obyek wisata Gunungkidul yang terletak di kawasan perbukitan salah satunya ialah Geoforest Watu Payung Turunan. Letak obyek wisata ini ialah di Dusun Turunan, Desa Girisuko, Kecamatan Panggang, Gunungkidul.

Obyek wisata ini memang menawarkan panorama alam yang begitu indah. Seandainya kepingin berhasil berkunjung ke Geoforest Watu Payung Turunan Gunungkidul, simak 4 tips berikut:

1. Datang sehabis subuh

Panorama yang tersaji di Geoforest Watu Payung Turunan memang tetaplah indah, walaupun didatangi pada siang hari. Namun di pagi hari, pesona keelokan di sini seakan semakin menggila.

Sama seperti obyek wisata favorite Yogyakarta di kawasan Mangunan, hamparan kabut yang melayang dan mengikuti aliran Sungai Oya dengan latar belakang barisan perbukitan hijau kelihatan begitu mempesona di pagi hari.

Tak cuma itu, sajian utama juga bisa disaksikan kalau datang ke Geoforest Watu Payung Turunan ini sehabis subuh. Sajian utama itu ialah keelokan matahari terbit yang begitu mengagumkan. Cahayanya yang menembus gordin kabut seakan membuat atmosfer pagi semakin syahdu.

2. Datang saat peralihan waktu hujan mengarah kemarau

Berkunjung ke obyek wisata yang satu ini paling cocok ialah di pagi hari diwaktu peralihan waktu hujan mengarah kemarau. Biasanya, siklus tahunan itu terjalin sekitar bulan Mei sampai pertengahan Juni.

Samudera kabut yang bisa dijumpai di Watu Payung, Panggang saat pagi hari.Kompas.com/Anggara Wikan Prasetya Samudera kabut yang bisa dijumpai di Watu Payung, Panggang saat pagi hari.

Hal itu karena menjelang waktu kemarau, biasanya pagi condong lebih terang akibatnya bisa jadi terlihatnya matahari terbit akan lebih besar. Tak cuma itu, kondisi yang masih belum begitu kering membuat pepohonan masih menghijau dan aliran Sungai Oya masih ada.

Seandainya berkunjung pada puncak ataupun akhir kemarau seperti Bulan Agustus ataupun September, pepohonan meranggas dan tak lagi bercorak hijau. Selang aliran Sungai Oya juga kira-kira kering diwaktu kemarau.

3. Membawa kamera

Semua keelokan yang tersaji di Geoforest Watu Payung Turunan tentu sangat disayangkan kalau tidak sampai diabadikan. Menjadi kegiatan lumrah saat bertamasya masa saat ini, diambil foto juga cocok dilakukan di sini karena keelokan yang tersaji.

Tak cuma berswafoto, mereka yang hobi fotografi juga bisa leluasa bereksperimen di sini. Bermacam metode pengambilan photo bisa dilakukan. Seandainya tidak, membuat video timelapse dari kabut yang bergerak lama-lama juga cocok dilakukan di sini.

Namun bagi pencinta swafoto, hendaknya tetap berjaga-jaga. Hal itu karena sisi utara obyek wisata ini berbentuk tebing terjal. Seandainya sampai terjatuh, maka efeknya akan parah.

4. Menjaga kebersihan dan sarana yang ada

Beberapa ornamen telah ditambahkan oleh pengelola di spot-spot yang menyajikan keelokan panorama alam. Tidak tanggung-tanggung, ornamen itu sangat artistik dan dibuat dari tangan seniman.

Maka dari itu, hendaknya tetap menjaga ornamen itu agar tidak rusak seperti mematuhi jumlah maksimum. Saat diambil foto juga hendaknya tidak bergaya yang lewat batas seperti melompat bersamaan karena bisa mengganggu oranmen spot photo.

Tak cuma itu, satu kewajiban lain yang harus dilakukan oleh hadirin ialah menjaga kebersihan. Geoforest Watu Payung Turunan beken akan keelokan alamnya yang asri. Maka dari itu, sampah betul-betul akan dapat menghancurkan semua keelokan itu.

Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *